Cari Blog Ini

Selasa, 29 September 2026

Pola Belanja Pelanggan Mulai Berubah?

 

oleh: Bang Ori

Pola Belanja Pelanggan Mulai Berubah? Dari Aqua 600 ml ke 1,5 Liter

Kategori: Retail Insight | Perilaku Konsumen | FMCG


Selama mengelola dan mengamati aktivitas retail, ada satu hal yang menurut saya semakin menarik untuk diperhatikan: pola belanja pelanggan tidak selalu tetap.

Produk yang selama ini kita anggap Slow Moving bisa tiba-tiba menunjukkan peningkatan permintaan. Sebaliknya, produk yang sebelumnya sangat cepat terjual juga bisa mengalami perlambatan.

Salah satu contoh sederhana yang saya temukan di lapangan adalah air mineral dalam kemasan 600 ml dan 1,5 liter.

Sebelumnya, ukuran 600 ml terlihat jauh lebih cepat bergerak. Sementara ukuran 1,5 liter cenderung masuk kategori Slow Moving.

Namun dalam sekitar dua bulan terakhir, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Pembelian ukuran 1,5 liter mulai meningkat.


Apakah ini hanya kebetulan?

Atau sebenarnya ada perubahan dalam cara pelanggan menentukan pilihan?

Dari “Harga Termurah” ke “Nilai yang Didapat”

Selama ini kita sering menganggap bahwa ketika kondisi ekonomi semakin menekan, konsumen akan selalu mencari harga yang paling murah.

Namun perilaku konsumen tidak sesederhana itu.

Data Worldpanel by Numerator pada FMCG Indonesia 2026 menunjukkan bahwa konsumen semakin berorientasi pada value atau nilai yang mereka dapatkan dari setiap pengeluaran. Pada Q1 2026, pertumbuhan FMCG banyak didorong oleh peningkatan volume dalam satu kali pembelian atau basket expansion, bukan semata-mata kenaikan harga. (Worldpanel +1)

Artinya, konsumen tidak hanya bertanya:

“Berapa harganya?”

Tetapi semakin mungkin mempertimbangkan:

“Dengan uang yang saya keluarkan, saya mendapatkan berapa banyak?”

Di sinilah ukuran kemasan menjadi menarik.

Contoh Sederhana: 600 ml vs 1,5 Liter

Bayangkan seorang pelanggan sedang membeli air mineral.

Ada dua pilihan:

600 ml

Cocok untuk diminum langsung, dibawa bekerja, berkendara, atau perjalanan singkat.

1,5 liter

Lebih cocok untuk dibawa pulang, diminum bersama, perjalanan lebih panjang, atau disimpan di rumah.

Jika pelanggan mulai menghitung harga per liter, ukuran 1,5 liter bisa terlihat lebih ekonomis, tergantung harga masing-masing produk.

Maka perubahan pilihan tersebut bukan selalu berarti:

“Pelanggan sekarang lebih suka botol besar.”

Bisa saja yang sebenarnya berubah adalah:

Cara pelanggan menghitung nilai dari sebuah pembelian.


Apa yang Terjadi di Lapangan?

Dalam pengamatan saya, sebelumnya Aqua 600 ml terlihat lebih cepat bergerak dibandingkan Aqua 1,5 liter.

Namun dalam sekitar dua bulan terakhir, pembelian Aqua 1,5 liter mulai menunjukkan peningkatan.

Ini menarik karena perubahan tersebut terjadi pada ukuran kemasan, bukan hanya pada merek.

Fenomena seperti ini perlu diperhatikan oleh pelaku retail karena perubahan pack size dapat memengaruhi:

jumlah stok yang harus disiapkan;

  • minimum stock;
  • ruang display;
  • posisi produk di rak;
  • jumlah facing;
  • pembelian ke distributor;
  • hingga klasifikasi Fast, Medium, atau Slow Moving.

Tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan:

Observasi pada satu atau beberapa toko belum cukup untuk menyatakan bahwa seluruh konsumen Indonesia telah berpindah dari 600 ml ke 1,5 liter.

Ini adalah sinyal yang perlu diuji dengan data penjualan.


Mengapa Pelanggan Bisa Mulai Memilih Ukuran Lebih Besar?

Ada beberapa kemungkinan.


1. Lebih ekonomis berdasarkan volume

Pelanggan mungkin mulai melihat harga bukan hanya berdasarkan harga per botol, tetapi berdasarkan harga per liter. Produk dengan harga sedikit lebih tinggi belum tentu dianggap mahal jika volume yang diperoleh jauh lebih besar.


2. Kebutuhan konsumsi berubah

Ukuran 600 ml sangat cocok untuk on-the-go consumption.

Sementara ukuran 1,5 liter lebih relevan untuk:

  • konsumsi di rumah;
  • makan bersama keluarga;
  • perjalanan;
  • dibawa ke tempat kerja;
  • stok sementara di rumah.

Jadi perubahan shopping mission dapat menyebabkan perubahan pilihan ukuran.


3. Pelanggan mulai memperbesar basket

Ini menjadi semakin relevan dengan temuan Worldpanel by Numerator.

Pada Q1 2026, pertumbuhan FMCG Indonesia banyak didorong oleh volume pembelian per perjalanan belanja yang lebih besar. Pada Q2 2026, pola tersebut masih terlihat pada sebagian kelompok konsumen, sementara kelompok lainnya lebih banyak meningkatkan frekuensi belanja.(Worldpanel +1)

Dengan kata lain, konsumen Indonesia tidak semuanya berperilaku sama.

Ada yang:

lebih sering belanja dengan jumlah lebih sedikit

dan ada yang:

lebih jarang belanja tetapi membeli lebih banyak dalam satu kesempatan.


Konsumen Semakin Selektif

Worldpanel by Numerator juga mencatat bahwa pada Q2 2026, pertumbuhan FMCG Indonesia mencapai sekitar 5% secara tahunan, tetapi konsumen semakin selektif dalam mengalokasikan pengeluaran. Pengeluaran rumah tangga secara keseluruhan tumbuh sekitar 6%, sehingga FMCG harus bersaing dengan kebutuhan lain seperti perjalanan, pendidikan, dan kebutuhan perayaan. (Numerator)


Temuan tersebut menarik untuk retail.

Karena konsumen yang semakin selektif bukan berarti berhenti berbelanja.

Mereka justru bisa menjadi lebih pintar dalam menentukan:

produk apa yang dibeli, ukuran apa yang dipilih, kapan membeli, dan berapa banyak yang dibeli. Jangan Terburu-buru Mengubah Produk Slow Menjadi Fast, Ini bagian yang menurut saya sangat penting bagi pengelola minimarket.

Ketika melihat penjualan Aqua 1,5 liter naik selama satu atau dua bulan, kita mungkin tergoda mengatakan:

“Sekarang 1,5 liter sudah Fast Moving.”

Saya justru menyarankan jangan terburu-buru. Dua bulan adalah sinyal yang menarik, tetapi belum tentu cukup untuk mengubah parameter persediaan secara permanen. Yang lebih tepat adalah melakukan monitoring. Minimal 8–12 minggu


Bandingkan:

1. Unit terjual

Berapa botol 600 ml dan 1,5 liter yang terjual?


2. Volume terjual

Jangan hanya menghitung botol.

Contoh:

600 ml × 100 botol = 60 liter

1,5 liter × 60 botol = 90 liter

Dalam contoh tersebut, jumlah botol 600 ml memang lebih banyak.

Tetapi volume air yang terjual justru lebih besar pada ukuran 1,5 liter.


3. Omzet

Berapa kontribusi masing-masing ukuran terhadap penjualan?


4. Margin

Apakah peningkatan volume juga memberikan kontribusi margin yang menarik?


5. Frekuensi pembelian

Apakah pelanggan membeli 1,5 liter lebih sering atau hanya terjadi karena kondisi tertentu?

Retail Harus Mulai Melihat “Liter Terjual”, Bukan Hanya “Botol Terjual”

Menurut saya, ini salah satu perubahan cara berpikir yang penting dalam pengelolaan retail.

Untuk kategori tertentu, unit sales saja tidak cukup.

Misalnya:

  • Produk
  • Unit Terjual
  • Volume/Unit
  • Total Volume
  • 600 ML
  • 100 ML
  • 0,6 L
  • 60 L
  • 1,5 L
  • 60
  • 1,5 L
  • 90 L

Kalau kita hanya melihat unit:

600 ml = lebih cepat

Tetapi jika kita melihat volume:

1,5 L = lebih besar kontribusinya.

Ini membuat analisis kategori menjadi jauh lebih menarik.


Perubahan Kecil di Rak Bisa Menjadi Sinyal Besar Bagi saya, pekerjaan di retail bukan hanya tentang melihat omzet. Retail juga tentang membaca perubahan kecil yang terjadi di depan mata. Produk yang biasanya tidak terlalu diperhatikan tiba-tiba mulai sering dibeli. Ukuran kemasan tertentu mulai bergerak. Pelanggan mulai membeli dalam jumlah berbeda. Produk tertentu mulai sering ditanyakan. Atau pelanggan mulai membandingkan harga dengan ukuran.


Hal-hal kecil seperti ini sebenarnya adalah data perilaku konsumen.Dan semakin cepat retailer membaca sinyal tersebut, semakin cepat pula keputusan merchandising, inventory, dan purchasing dapat disesuaikan.


Apa yang Sebaiknya Dilakukan Retailer?

Saya melihat setidaknya ada lima langkah sederhana.


1. Jangan hanya melihat Fast dan Slow Moving

Tambahkan indikator:

TREND
↑ Naik
→ Stabil
↓ Turun


Produk Slow Moving tetapi trennya naik harus diperlakukan berbeda dengan produk Slow Moving yang terus turun.


2. Bandingkan ukuran kemasan

Jangan melihat Aqua 600 ml dan Aqua 1,5 liter sebagai dua SKU yang berdiri sendiri.

Lihat sebagai satu kelompok:

Kategori Air Mineral → Brand → Pack Size

Dari sana kita bisa melihat apakah terjadi perpindahan preferensi ukuran.


3. Hitung volume

Untuk produk cair:

Unit × Liter per Unit = Total Liter Terjual

Ini memberikan perspektif yang berbeda terhadap performa produk.


4. Pantau minimal 8–12 minggu

Jangan mengambil keputusan besar hanya karena melihat satu minggu yang bagus.

Cari pola.

Apakah kenaikan terus berlangsung?

Atau hanya terjadi sementara?


5. Evaluasi kembali ruang display

Jika sebuah ukuran mulai menunjukkan tren peningkatan secara konsisten, retailer dapat mempertimbangkan apakah:

facing, stok minimum, reorder point, dan posisi display

masih sesuai dengan perilaku pelanggan terbaru.



Kesimpulan

Perubahan dari Aqua 600 ml menuju Aqua 1,5 liter yang saya lihat di lapangan belum bisa dianggap sebagai bukti bahwa seluruh pelanggan Indonesia telah mengubah preferensi mereka.

Namun, fenomena tersebut sangat layak diperhatikan.

Sebab data FMCG Indonesia 2026 menunjukkan bahwa konsumen memang semakin mempertimbangkan value, ukuran basket, frekuensi belanja, dan cara mengalokasikan pengeluaran. Worldpanel juga menemukan bahwa respons konsumen berbeda berdasarkan kelompok sosial-ekonomi dan kondisi pasar. (Worldpanel +1)

Sementara itu, Bank Indonesia pada September 2026 masih mencatat bahwa penjualan ritel Indonesia diperkirakan tumbuh, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama. (Bank Indonesia)

Maka bagi saya, pertanyaan retail hari ini bukan lagi sekadar:

“Produk mana yang Fast Moving?”

Tetapi:

“Apakah pola belanja pelanggan sedang berubah?”

Karena bisa saja produk yang kita anggap Slow Moving sebenarnya bukan tidak diminati.

Mungkin pelanggan sedang mengubah cara mereka membeli.

Dan tugas seorang retailer adalah membaca perubahan tersebut sebelum perubahan itu menjadi terlalu besar untuk diabaikan.


Catatan Penulis

Tulisan ini menggabungkan observasi lapangan dengan referensi mengenai perilaku konsumen FMCG Indonesia. Contoh perubahan penjualan Aqua 600 ml dan 1,5 liter merupakan pengamatan lapangan, bukan klaim bahwa pola tersebut berlaku untuk seluruh konsumen Indonesia.


Referensi utama:

Worldpanel by Numerator — Indonesia FMCG Outlook 2026 Baca sumber Worldpanel⁠�

Worldpanel by Numerator — Indonesia FMCG Monitor Q1 2026 Baca sumber Q1 2026⁠�

Worldpanel by Numerator — Indonesia FMCG Monitor Q2 2026 Baca sumber Q2 2026⁠�

Bank Indonesia — Retail Sales Survey August 2026 Baca sumber Bank Indonesia⁠�

Jumat, 13 Februari 2026

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

 

Bang Ori Sumbar
(konsultanritel.id)

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Mayoritas lembaga memperkirakan ekonomi Indonesia masih tumbuh stabil di kisaran 5%–5,5%.

IMF: sekitar 5,1% pertumbuhan ekonomi. (detikfinance)

Bank Indonesia: sekitar 5,3% (kisaran 4,9%–5,7%).(Antara News Jawa Barat)

Ekonom pasar: sekitar 5,0%–5,4%. (detikFinance)

Pemerintah menargetkan sekitar 5,4% melalui APBN 2026. (Reuters)

Bahkan ada optimisme bisa lebih tinggi jika program pemerintah berjalan efektif. (Reuters)

👉 Artinya: ekonomi Indonesia diprediksi tidak krisis, tetapi juga belum melonjak tinggi.

📉 Prediksi Inflasi & Harga Barang

Kabar cukup baik:

Inflasi diperkirakan sekitar 2,5% – 2,6% (relatif rendah dan stabil). (Antara News)

Kalau inflasi terkendali:

  • ✅ Harga barang lebih stabil
  • ✅ Daya beli masyarakat lebih aman
  • 💰 Faktor yang Akan Mendorong Ekonomi

Beberapa pendorong utama 2026:

1️⃣ Konsumsi Masyarakat

Belanja masyarakat tetap menjadi mesin utama ekonomi Indonesia. (Antara News)

Program bantuan sosial dan subsidi pemerintah juga membantu konsumsi. (Reuters)

2️⃣ Belanja Pemerintah Besar

APBN 2026 sangat besar, termasuk:

  • Program makan gratis
  • Infrastruktur
  • Bantuan sosial

Belanja pemerintah bisa mendorong ekonomi jangka pendek.

3️⃣ Investasi & Hilirisasi

Investasi sektor:

  • Tambang
  • Industri pengolahan
  • Energi
  • Data center

Ini penting untuk pertumbuhan jangka panjang.

⚠️ Risiko Ekonomi 2026

Walaupun prospek cukup baik, ada beberapa risiko:

🌍 Ekonomi Global Lemah

Jika ekonomi dunia melambat:

  • Ekspor Indonesia turun
  • Lapangan kerja terpengaruh

💵 Nilai Tukar Rupiah

  • Tekanan dolar bisa mempengaruhi harga impor dan BBM.

🏭 Lapangan Kerja

Pertumbuhan ekonomi belum tentu langsung terasa jika:

  • PHK masih terjadi
  • Investasi belum menyerap banyak tenaga kerja

👨‍👩‍👧 Dampak ke Masyarakat

Yang kemungkinan dirasakan masyarakat:

  1. ✅ Harga relatif lebih stabil dibanding 2024–2025
  2. ✅ Ekonomi masih tumbuh (tidak resesi)
  3. ⚠️ Tapi lapangan kerja belum terlalu mudah
  4. ⚠️ Pendapatan naik tidak terlalu cepat

Jadi kondisi ekonomi 2026 kemungkinan: 👉 Stabil tapi belum sejahtera merata

⭐ Kesimpulan Sederhana

  • Prediksi ekonomi Indonesia 2026:
  • Pertumbuhan: sekitar 5%-5,5%
  • Inflasi: sekitar 2,5%
  • Kondisi: stabil, tidak krisis
  • Tantangan: pekerjaan & daya beli
(.....dari berbagai sumber)

Selasa, 09 September 2025

Kisah Keajaiban Naluri 20 Tahun Penelitian

 


Seekor elang yang terbang selama dua puluh tahun tanpa pernah menyentuh langit di atas laut ini bukan sekadar perjalanan, ini adalah kisah keajaiban naluri dan kebijaksanaan alam yang sunyi.


Dengan bantuan pelacak GPS dari Rusia, burung ini diawasi selama dua dekade, menjelajah ribuan kilometer melintasi stepa luas, padang pasir yang kejam, pegunungan tinggi, dan belasan negara. Tapi yang membuat para ilmuwan terdiam bukanlah jauhnya jarak yang ia tempuh, melainkan keputusan-keputusan yang diambil dalam diam. Saat dihadapkan pada pilihan untuk menyeberangi laut dan memangkas waktu tempuh, elang ini justru memilih rute darat yang jauh lebih panjang dan berliku. Bukan karena takut air, tapi karena memahami secara naluriah bagaimana dunia bekerja.


Elang bukan burung laut. Ia bergantung pada arus termal: kantung udara panas yang naik dari permukaan bumi dan mengangkat tubuhnya tinggi ke angkasa tanpa harus mengepakkan sayap terus-menerus. Arus ini adalah bahan bakar tak terlihat yang memungkinkan mereka meluncur jauh dengan energi yang minimum. Tapi di atas laut, arus itu nyaris tak ada. Laut tidak memanaskan udara seperti daratan. Maka, menyeberangi laut bukan sekadar menantang, tapi bisa jadi keputusan yang fatal.


Dan di sinilah letak keajaibannya: tanpa peta, tanpa satelit, tanpa pelatihan elang ini tahu. Ia tidak hanya membaca angin, tapi membaca bumi. Ia tahu mana yang layak dijelajahi dan mana yang harus dihindari. Dalam diamnya, ia menunjukkan bahwa naluri yang diwariskan oleh evolusi kadang lebih cerdas dari strategi buatan manusia.


Peta perjalanannya bukan sekadar garis-garis di atas peta. Itu adalah jejak kecermatan, pemahaman, dan harmoni antara makhluk dan alamnya. Dalam setiap belokan yang ia ambil, ada pelajaran tentang bertahan hidup, tentang memilih jalan yang lebih panjang demi keselamatan, dan tentang bagaimana hidup sering kali bukan soal cepat sampai tapi soal bagaimana sampai dengan selamat.


#HarmoniAlam #MigrasiBurung #KecerdasanEvolusi

Sumber:

BBC Earth – Tracked by GPS: The Eagle That Never Crossed the Sea

Jumat, 27 Juni 2025

Ketika Emosi Rakyat Mendidih di Tengah Tekanan Ekonomi

Oleh: Bang Ori Gagah

(Founder of konsultanritel.id)


Kita sedang berada di masa yang tidak mudah. Sebagai pelaku ritel dan pengamat lapangan selama bertahun-tahun, saya menyaksikan sendiri betapa wajah rakyat kini berubah — tidak hanya letih secara fisik, tapi juga lelah secara batin. Tekanan hidup, terutama dari sisi ekonomi, sudah sedemikian kuat hingga banyak yang kehilangan ruang untuk sekadar bernapas lega.


Belakangan ini, kita sering mendengar atau menyaksikan langsung pertengkaran di lapangan: antara pedagang kaki lima dan petugas penertiban, antara sopir ojek online dan aparat, antara rakyat biasa dengan sesama rakyat yang mengenakan seragam tugas. Di permukaan tampak seperti konflik biasa. Tapi sesungguhnya, ini adalah ledakan dari tekanan ekonomi yang kian menyesakkan.


Pihak yang satu sedang menjalankan tugas—membawa amanat negara, aturan, dan kebijakan. Tapi pihak lainnya sedang menjalankan misi hidup paling dasar: bertahan hidup, memberi makan keluarga, dan menyambung hari esok. Sayangnya, pertemuan mereka tidak jarang justru berujung pada konfrontasi, karena keduanya berada di dua kutub yang sama-sama terhimpit sistem.


Masalah ini tidak bisa disederhanakan menjadi “rakyat yang emosional” atau “petugas yang tidak manusiawi.” Ini tentang sistem ekonomi yang belum memberi ruang cukup untuk hidup layak. Tentang lapangan kerja yang tak terbuka luas. Tentang penghasilan yang tak mampu mengimbangi kebutuhan pokok. Dan tentang absennya keadilan sosial yang dijanjikan sejak awal kemerdekaan.


Apa solusinya? Saya percaya kita butuh dua hal: kehadiran nyata negara di tengah rakyat, serta kesadaran kolektif untuk saling memahami. Pemerintah harus menyentuh langsung jantung ekonomi rakyat kecil, bukan sekadar menyalurkan bantuan sesaat, tapi menciptakan ekosistem hidup yang berkelanjutan — dari UMKM, lapangan kerja, sampai harga kebutuhan pokok yang terjangkau.


Di sisi lain, kita juga perlu memperkuat empati. Antara petugas dan rakyat, antara pelanggan dan pelayan toko, antara penjual dan pembeli — kita semua sesungguhnya adalah bagian dari rakyat yang ingin hidup damai. Jangan biarkan sistem yang timpang membuat kita saling memusuhi.


Saya percaya, krisis ini bisa menjadi peluang. Jika kita bisa saling mendengar, saling menahan diri, dan saling memperjuangkan keadilan bersama, maka dari titik terendah inilah kita bisa bangkit sebagai bangsa yang lebih kuat.


Wallahu A'lamu... ~@bangorigagah

Jumat, 20 Juni 2025

Satu Info saja dari Dia kepada Qurays, maka berakhirlah...

 



"Ia Belum Beriman, Tapi Ia Menyelamatkan Sang Nabi…"

(Sebuah kisah hijrah yang bukan sekadar perjalanan, tapi bukti bahwa amanah tidak mengenal agama.)

Malam itu, Mekkah terasa menyesakkan.

Langit seolah memendam rahasia besar.

Rumah Rasulullah SAW telah dikepung. Kaum Quraisy menyusun rencana: malam itu harus jadi malam kematian Muhammad.

Namun Allah selalu punya cara untuk menyelamatkan cahaya-Nya.

Diam-diam, Rasulullah keluar dari rumah. Abu Bakar setia menemani.

Tapi mereka tak langsung menuju Madinah.

Mereka justru menuju arah berlawanan, bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari berpuasa dalam sunyi, bertahan dalam takut, bertawakal dalam doa.

Namun inilah bagian paling tak disangka dalam perjalanan suci itu…

Penunjuk jalan mereka bukan seorang sahabat,

bukan orang dari kalangan Muhajirin,

bukan pula seorang Muslim.

Namanya Abdullah bin Uraiqith.

Ia masih musyrik. Ia belum masuk Islam.

Tapi justru dialah yang dipercaya oleh Rasulullah…

untuk menuntun jalan menuju Madinah.

Kenapa?

Karena ia jujur.

Karena ia amanah.

Karena ia tahu jalan-jalan tersembunyi padang pasir yang tidak diketahui oleh kaum Quraisy.

Rasulullah SAW mengajarkan, bahwa dalam keadaan genting,

yang dicari bukan status agama dulu tapi akhlak, profesionalitas, dan kesetiaan.

Bayangkan… betapa besar risikonya.

Satu kata dari Abdullah kepada Quraisy…

Dan sejarah Islam berakhir di malam itu.

Tapi ia tidak berkhianat.

Di saat banyak orang mengaku beriman tapi mudah tergoda dunia,

Seorang musyrik justru menjaga rahasia Nabi.

Dengan nyawanya.

Sumber: Sirah Nabawiyah

Rabu, 04 Juni 2025

Tak Perlu Pengakuan atau Untuk Diakui, Cheetah Sudah Pasti Lebih Unggul di Bidangnya

 


Anjing dimasukkan lomba untuk bersaing dengan Cheetah, tujuannya adalah untuk mencari tahu siapa yang lebih cepat.


Semua orang terkejut karena Cheetah tidak beranjak dari tempatnya.


Mereka bertanya kepada koordinator lomba tentang apa yang terjadi.


Tanggapannya setelah melihat gambar ini.


Kadang² mencoba untuk membuktikan bahwa kau adalah yang terbaik adalah sebuah penghinaan.


Kita tidak perlu turun ke level orang lain untuk membuatnya mengerti bahwa kita adalah yang paling kuat.


"Berpikir keras" dan "simpan energi Anda" untuk apa yang pantas Anda dapatkan.


Cheetah menggunakan kecepatannya untuk berburu.


Hanya untuk "berburu".


Bukan untuk membuktikan kepada Anjing tentang siapa yang lebih cepat dan kuat.


Jadi paham kenapa terkadang orang² cerdas memilih untuk diam saja daripada ribut membuktikan dirinya.


JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUMU UNTUK MEMBUKTIKAN NILAIMU.

Senin, 19 Oktober 2020

LINGKUNGAN YANG TEPAT - SELF REMINDER

 

Seorang Anak Muda sedang membersihkan aquarium Paman nya, ia memandang ikan arwana agak kebiruan dengan takjub..
Tak sadar Pamannya sudah berada di belakangnya.. "Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Paman..
.
"Tidak tahu". Jawab si Anak Muda..
.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!". Perintah sang Paman.

Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga..
Kemudian kembali menghadap sang Paman. .
"Ditawar berapa ?" tanya sang Paman. .
"50.000 Rupiah Paman". Jawab si Anak Muda dengan mantap.
.
"Coba kau tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Paman lagi.
.
"Baiklah Paman". Jawab si Anak Muda. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias..
.
"Berapa ia tawar ikan itu?". Tanya sang Paman.
.
"800.000 Rupiah Paman". Jawab si Anak Muda dengan gembira, ia mengira sang Paman akan melepas ikan itu.
.
"Sekarang coba kau tawarkan ke Juragan Joni Rahman, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan ini sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Paman lagi. "Baik Paman". Jawab si Anak Muda. Kemudian ia pergi menemui Pak Joni yang dikatakan Pamannya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang Paman.
.
"Berapa ia menawar ikannya?".
.
"50 juta Rupiah Paman".
.
Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda..
.
"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat". "Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita". "Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita". "Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita". "Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita". "Kita adalah orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita". Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing terhadap kita, maka tak usahlah bersusah payah supaya kelihatan baik dimata orang. Tapi berusahalah terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan.

Cari disini

Translate (Penterjemah)

Followers